UPMI Bali Students’ Eco-Art-Tech Revives Educational Tourism Potential

UPMI Bali Students' Eco-Art-Tech Revives Educational Tourism Potential
Tech

UPMI Bali Students’ Eco-Art-Tech Revives Educational Tourism Potential

Jamwaktu.comMahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali menunjukkan peran aktifnya dalam pengembangan desa melalui program inovatif bertajuk Eco-Art-Tech. Program ini dirancang untuk mendorong potensi eduwisata Desa Silangjana, Kabupaten Buleleng, dengan menggabungkan konsep ekologi, seni, dan teknologi secara terpadu dan berkelanjutan.

Desa Silangjana dikenal memiliki kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal yang besar, namun belum sepenuhnya tergarap optimal sebagai destinasi wisata edukatif. Melalui program Eco-Art-Tech, mahasiswa UPMI Bali berupaya menghidupkan potensi tersebut dengan pendekatan kreatif yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan nilai edukasi bagi masyarakat dan pengunjung.

Konsep Eco-Art-Tech yang Berkelanjutan

Program Eco-Art-Tech mengusung tiga pilar utama. Pilar ekologi diwujudkan melalui edukasi lingkungan, pengelolaan sampah berbasis desa, serta pemanfaatan material ramah lingkungan dalam berbagai kegiatan. Mahasiswa mengajak warga untuk lebih peduli terhadap kelestarian alam sebagai aset utama desa.

Pilar seni diwujudkan melalui pengembangan seni lokal, seperti seni rupa, kerajinan tangan, dan pertunjukan budaya yang dikemas secara edukatif. Kegiatan ini tidak hanya melestarikan budaya setempat, tetapi juga memberi ruang bagi generasi muda desa untuk mengekspresikan kreativitas mereka.

Sementara itu, pilar teknologi dimanfaatkan untuk mendukung promosi dan edukasi, seperti pembuatan konten digital, media informasi berbasis QR code, serta pemanfaatan media sosial untuk memperkenalkan Desa Silangjana sebagai destinasi eduwisata yang unik dan modern.

Kolaborasi dengan Masyarakat Desa

Keberhasilan program Eco-Art-Tech tidak lepas dari kolaborasi erat antara mahasiswa UPMI Bali dengan pemerintah desa, tokoh adat, serta kelompok masyarakat setempat. Mahasiswa tidak hanya datang sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra yang belajar dan bekerja bersama warga.

Kepala Desa Silangjana menyambut positif inisiatif tersebut. Menurutnya, program Eco-Art-Tech memberikan sudut pandang baru dalam mengembangkan potensi desa.

“Pendekatan yang dilakukan mahasiswa sangat relevan dengan kebutuhan desa kami. Tidak hanya fokus pada wisata, tetapi juga pendidikan dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.


Eduwisata sebagai Sarana Pembelajaran

Konsep eduwisata yang dikembangkan mahasiswa UPMI Bali menekankan pengalaman belajar langsung bagi pengunjung. Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan desa, tetapi juga diajak memahami proses pengelolaan lingkungan, mengenal seni dan budaya lokal, serta mempelajari pemanfaatan teknologi sederhana yang diterapkan di desa.

Beberapa program unggulan yang dikembangkan antara lain paket wisata edukasi lingkungan, workshop seni berbasis bahan alam, serta tur digital desa yang memadukan cerita lokal dengan teknologi informasi.

Dampak Positif bagi Desa Silangjana

Program Eco-Art-Tech mulai menunjukkan dampak positif bagi Desa Silangjana. Selain meningkatkan kesadaran lingkungan, kegiatan ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga, terutama pelaku UMKM dan kelompok seni. Produk kerajinan lokal mulai mendapat perhatian, sementara desa semakin dikenal sebagai destinasi eduwisata yang memiliki nilai edukasi tinggi.

Bagi mahasiswa UPMI Bali, program ini menjadi sarana penerapan ilmu pengetahuan secara nyata di masyarakat. Mereka belajar tentang pemberdayaan desa, kerja sama lintas sektor, serta pentingnya pendekatan partisipatif dalam pembangunan berkelanjutan.

Harapan ke Depan

Mahasiswa UPMI Bali berharap program Eco-Art-Tech dapat terus berlanjut dan dikembangkan lebih luas. Mereka mendorong agar Desa Silangjana menjadi contoh pengembangan eduwisata berbasis ekologi, seni, dan teknologi yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Bali.

“Kami ingin Eco-Art-Tech menjadi gerakan berkelanjutan, bukan hanya program sementara. Dengan kolaborasi yang kuat, desa bisa tumbuh mandiri dan tetap menjaga identitas budayanya,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa.

Melalui inovasi Eco-Art-Tech, mahasiswa UPMI Bali membuktikan bahwa peran generasi muda sangat penting dalam menggerakkan potensi desa. Desa Silangjana kini melangkah menuju masa depan sebagai destinasi eduwisata yang edukatif, kreatif, dan berkelanjutan, tanpa meninggalkan nilai lokal yang menjadi jati dirinya.

Back To Top